Jumat, 09 November 2018

SEJARAH DESA LAMATOKAN

Lamatokan merupakan salah satu desa yang berada Bagian  di timur Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Lamatokan dulunya menjadi salah satu daerah penghasil garam  di kabupaten lembata. Berbeda halnya dengan Sekarang, dimana dalam Keseharian hidup-nya Lebih tertarik akan garam beryudium dari pada Garam hasil produksi sendiri. Dimana hrganya Murah dan juga mudah untuk di dapatkan serta tidak harus menguras Tenaga.  Apapun alasan mendasar lainnya yaitu Konsumen, dengan Siapa Dan Kemana mereka harus menjualnya?. Hal kecil seperti Inilah yang perlu untuk di perhatikan pemerintah setempat. Maka tidak heran jika muncul  pemikiran instan seperti ini,  yang pada nantinya menghilangkan budaya mereka yang sebelumnya bisa memproduksi garam sendiri tergeser dan hilang dengan sendirinya.  
      Pada umumnya masyarakat Lamatokan bekerja sebagai petani, disamping sebagai petani mereka juga harus melaut untuk kebutuhan sehari-hari. Letak lamatokan yang berdekatan dengan pantai dan diapiti pohon bakau di sisi kiri maupun kanan membuat banyak pengujung yang datang untuk menikmati indah pantai Lamatokan.


SEJARAH
Beberapa sumber menyebutkan bahwa keturunan asli masyarakat Lamatokan berasal dari  keturanan Seran Goran-Maluku Tenggara.Mareka memilih meninggalkan daerahnya dan malakukan pelayaran dengan menyusuri Pantar (alor) , dan selanjutnya beristrahat sejenak dan membangun perkemahan sebagai tempat berlindung. Dengan keadaan yang  atapnya terbuat dari alang-alang. Setelah itu mereka melanjudkan pelayaran dan tiba di pulau Lepan Batan. Dipulau ini mereka memilih untuk menetap dan membentuk beberapa kampung kecil.
    Pulau lepan batan terletak dibagian barat pulau Alor, pulau ini memiliki kekayaan alam yang tak habisnya yaitu rumput laut,
Pulau lepan batan juga menjadi tempat perdagangan dari berbagai daerah diwaktu itu. Tenggelamnya pulau lepan batan ini terjadi sekitar tahun 1522-1525 yang dibuktikan dengan perjalanan kapal Victoria menyusuri Batu Tara pada tahun 1522 dan juga berita Raja Larantuka mengenai pelarian masyarakat dari pulau Lepan Batan tahun 1525.
Karena tenggelamnya 2 pulau ini,orang-orang lembata mengalami kesulitan dalam mencari daerah baru sebagai tempat tinggal. Hal ini menyebabkan mereka tak lagi bersama-sama seperti dulu.
        Sebagian menyusuri wariang dan edang aya wei laong, sebagian lagi menyusuri bagian utara dan selatan dan tiba di Noni Hobamatang, yang sekarang Mahal 1 dan Mahal 2. Sebagian yang lain menuju ke Bobu dan juga ke Lamatuka,  sebagian lagi melakukan pelayaran dan tiba di Mulandoro dan juga Lebala.
Sedangkan yang sisanya meneruskan pelayaran menuju ke Nuhanela, Lamalera dan keseluruh pulau Lembata.
      Lamatokan atau yang dulu dikenal dengan Tokonjaeng dihuni oleh keluarga Beni tokan. Sedangkan saudara Beni Tokan yang bernama Lewa Nane dan Raya Laga Doni dan keluarganya  menempati kampung lela tuan yang sekarang disebut atowolo (kampung adat).
     Lawe Nena dan Raya Laga Doni hidup di kampung Lela Tuan dengan aman dan damai. Suatu hari mereka kekurangan akan bahan makanan, hasil alam semakin tidak buruk setiap harinya. Untuk mengatasi hal ini, Lawe Nane dan Raya Laga Doni mengumpulkan anak-anaknya untuk mendiskusikan hal tersebut. Dengan waktu yang singkat mereka memutuskan untuk berburu. Namun, lokasi dan tempat serta kelompok berburupun berbeda-beda, hal ini dilakukan agar tanggapan hasil buruan bayak dan tidak membuang-buang waktu serta tenaga.
  Keesokan harinya kelompok Lawe Nena dan Kelompok Raya Laga Doni menyiapkan perlengkapan buruan. Perlengkapn buruan ini masih menggunakan alat-alat tradisional, baik itu busur maupun yang lainnya. Perpencaranpun terjadi, kelompok Lewa Nena berjalan keTimur dan Kelompok Raya Laga Doni berjalan kebarat.
     Perangkap (jerat) dipasang dengan teliti, ada 2 jenis peragkap yang digunakan, baik itu perangkap (jerat) kaki yang ditujukan kepada hewan-hewan kecil maupun perangkap (jerat) kepala yang ditujukan kepada hewan-hewan besar. Teknik perangkap ini hingga sekarang masih tetap digunakan oleh masyarakat lamatokan, hal ini menjadi warisan leluhur yang tak bisa dilupakan dari generasi ke generasi.
    Setelah selesai memasang perangkap, kedua keluarga ini memutuskan untuk kembali ke kampung, dengan kesepakatan akan kembali melihat perangkap pada esok hari nanti. Aktifitaspun berjalan seperti biasanya, baik itu bertani, menenun, dan berternak sebagaimana masyarakat pada umumnya.
    Atas kesepakatan tersebut, keesokan harinya mereka kembali melihat perangkanya masing-masing. Namun, dari beberapa perangkap yang dipasang itu, hanya perangkap Koke, bome, dan bido yang membuahkan hasil. Hasil tangkapan itu antara lain: koke mendapatkan belaho, bome mendapatkan aba,  dan bido mendatkan kode. Yang menjadi keunikannya adalah  hasil tanggkapan bukan berupa hewan, namun beberapa benda adat yang sampai sekarang menjadi ciri khas dari ketiga suku ini.
     Karna merasa tidak puas akan hasil tangkapan yang didapat maka,  mereka berembuk untuk bertukaran. Pada kesempatan ini,  Lewa nena dan kelopoknya berjalan ke barat untuk melihar perangkap yang dipasang Raya laga doni, dan juga sebaliknya Raya Laga Doni berjalan ke Timur untuk melihat perangkap yang dipasang oleh keluarga Lewa Nena. Namun, hasil tengkapan tetap saja yang sama. Hanya perangkap yang dilhat koke, bome dan bido sajalha yang mendapatkan tangkapan. Hasil tangkapanpun tetap saja yang sama, bukan hewan melainkan belaho, aba , dan kode.
    Karna iri dan merasa direndahkan, terjadilha pertengkaran hebat antara Keluarga Lewa Nena dan dan keluarga Raya laga doni. Hal ini disebabkan oleh tuduhan yang dilantungkan oleh Keluarga Lewa Nena terhadap Koke, bome, dan bido bahwa koke, bome dan bido telah mencuri hasil tangkapan mereka.
     Hal ini menyebakan Koke, bome dan bido bersama anak-anak memtuskan untuk hengkak dari kampung tersebut. Namun sebelum berangkat, ibu dari koke, bome, bido memberikan mereka bekal yang tidak lain adalah tangkapan yang didapat oleh mereka sendiri, dalam hal ini adalah belaho, aba dan kode.
    Keputusan untuk meninggalkan kampung Lela Tuanpun terjadi. Tangisan air matapun mengiringi kepergian ketiga kakak beradik ini. Bersama istri dan anak- anak ketiga kakak beradik ini berjalan menyusuri satu daerah kedaerah lain. Sampailha mereka di Lewolein dan memili untuk beristrahat sambil mencari bahan makanan tambahan. Sambil mencari bahan makanan mereka juga mencari kayu dan juga bambu yang akan digunakan untuk membuat rakit.
    Setelah selesai menyelesaikan Rakit itu, mereka memutuskan untuk berlayar mengikuti arah angin. Anginpun bertiup dan membawa mereka hingga terdampar di tempat suatu tempat yang dalam bahasa lamatokan adalah waibara. Karna persediaan makanan semakin berkurang maka mereka memili untuk menetap dan mendirikan gubuk kecil untuk berlidung.
     Aktifitas mencari sumber makanpun berjalan seperti biasanya. Sambil bercerita menikmati santapan malam, mereka melihat ada kobaran api yang berada didekat lereng gunung. Dibalik kobaran api itu mereka mencurigai ada sekelompok orang yang mendiami wilayah tersebut. Karna adanya rasa keingintahuan akan suasana yang berada di balik lereng gunung itu, maka memutuskan untuk pergi ke tempat tersebut. Ternyata tempat tersebut dihuni oleh Keluarga Beni Tokan yang juga adalah saudara mereka. Perkenalanpun dilakukan antara dua ketuduran sedarah ini. Ketiga kakak beradik ini menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi kepada Beni Tokan dan keluarganya.
    Mendengar cerita ketiga kakak beradik ini, kelurga beni tokan meminta agar mereka tinggal dan menetap bersama mereka di tempat tersebut. Tempat inilha yang disebut Tokanjaeng. Berkat uluran tangan dari sang saudara, ketiga kakak beradik serta istri dan anak- anaknya bisa tinggal kampung tersebut. Kehidupanpun berjalan dengan baik dan harmonis.
    Suatu hari, mereka landa bencana, angin kencang menghantam kampung tersebut, Rumah-rumah hancur seketika. Karna hal ini maka mereka berembuk untuk pergi momotong bambu yang akan digunakam untuk mendirikan rumah baru. Mereka berjalan beramai-ramai sambil menyanyikan lagu kekhasan daerahnya yaitu oha, balasan pantun dilantungkan satu persatu, suasana perjalanan menjadi riang dengan sendirinya.
      Selesai memotong bambu, bome, koke dan bido memanggil sanak saudaranya untuk pulang. "Ina ama kae le wati bera ti taike" yang artinya saudaruku sudah selesai apa belum, mari kita pulang. Namun jawaban Suudaranya " molo be kame dore" duluan baru kami menyusul. Mendengar jawaban terikan balasan yang dilantungkan sang saudranya itu maka mereka memutuskan pulang terlebih dahulu. Awalnya Bambu yang ditarik mereka dengan ujung ke laut, namun dalam perjalanan mereka berpikir untuk mengubahnya dengan pangkal ke laut. Hal ini agar memudahkan mereka cepat sampai di kampung. Perlombaan menarik bambupun terjadi, mereka menarik bambu dengan sekuat tenaga hingga yang mencapai kampung terlebih dahulu adalah koke, bome dan diikuti saudaranya bido.
     Setelah sampai dikampung mereka beristrahat. Karna menunggu saudaranya yang begitu lama maka mereka menutuskan untuk makan dahulu. Namun sebelum makan mereka memberikan ritual "Pao boe" yang artinya memberi makan kepada leluhur, ritual ini dilakukan oleh Koke sebagai saudara terbesar diantara mereka. Namun hal itu dilihat oleh Beni Tokan dan kelurganya, hal ini menyebabkan munculnya sikap marah dari keluarga Beni Tokan kepada Ketiga kakak beradik ini. Penjelasan dem penjelasan dilangkan tapi tetap saja tidak dihiraukan. Hal ini menyebaban keluarga beni Tokan dan keluarganya memili untuk hengkak dari kampung tokanjaeng. Yang pada akhirnya tiba di adonara dan menetap disana hingga saat ini.
    Untuk mengenang akan saudaranya ini, maka mereka menyebutkan nama kampung ini tokanjaeng atau lamatokan, yang artinya Kampung beni

    Pesan:
Tidak ada sikap mendiskriminasi antar sesama, namun ingin menceritakan kembali dengan baik dan detail mengenai sejarah desa lamatokan.
Jika ada kata yang kurang berkenan, dari lubung hati yang paling dalam penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya dan mengharapkan adanya sanggahan atau opini yang lebih sistematik akan terciptanya cerita desa yang menarik.
   
Salom!!!

MARTINUS KIDAMAN KOKOMAKING

Tidak ada komentar:

Posting Komentar