Sejarah suku adalah perjalanan asal-usul, migrasi, dan perkembangan kelompok-kelompok manusia yang membentuk identitas bersama berdasarkan garis keturunan, budaya, bahasa, adat istiadat, dan wilayah tinggal. Begitupun halnya dalam masyarakat Lamaholot pada umumnya menganut budaya patrilineal atau mengikuti garis keturunan Ayah. Maka, setiap anggota masyarakat diwajibkan menggunakan marga atau suku untuk menjadi kekhasan atau brand dari setiap daerah asalnya. Lebih lanjut marga atau suku menjadi penting untuk bagaimana orang lain akan lebih mudah mengetahui dan mengenal satu dengan yang lainnya, hingga dapat tercipta suatu keakraban dan membangun relasi yang baik dari setiap anggota masyarakat.
Suku yang menjadi suatu identitas atau jati diri seseorang. Asal muasal seseorang di bisa diterjemahkan dalam nama suku yang melekat dalam diri setiap orang. Maka hal ini menjadi dasar Masyarakat Lamaholot untuk meletahkan suku atau marga menjadi sesuatu yang penting dalam segala proses urusan hidup bahkan mati seseorang.
Untuk mengenal lebih jauh tentang suku, mari kita mengupas bagaimana sejarah suku kokomaking lango aran bisa tinggal dan menetap sampai sekarang di kampung Tokojaeng atau yang lebih dikenal dengan desa Lamatokan.
Kampung Tokojaeng dihuni oleh 3 suku asli diantaranya: Kokomaking, Bomemaking dan Bidomaking. Adapun juga beberapa suku pendatang yang lain, Pureklolon, Kalikur, Lango Tukan, wanganaing dan juga beberapa suku yang lain. Awalnya kampung Tokojaeng ini dihuni oleh Suku Tokan yang sekarang berhijra ke Adonara, sedangkan munculnya kampung Tokojaeng dipelopori oleh Raya Laga Doni bersama ketiga anaknya yang bernama Koke, bome dan bido. Ketiga anak inilah yang menjadi cikal bakal munculnya suku besar yang ada di Lamatokan.
Dari ketiga suku asli yang ada di Tokojaeng, suku Kokomaking menjadi suku besar atau suku kaka diantara kedua suku yang lain, yaitu suku Bomaking dan Bidomaking. Hal tersebut dibuktikan dengan suatu cerita sejarah yang menerangkan bahwa Koke menjadi anak sulung dari Raya Laga Doni. Koke sebagai cikal bakal terbentuknya suku Kokomaking ini, melahirkan dan meneruskan begitu banyak keturunan hingga saat ini. Anak/cucu mempertahankan suku Kokomaking dengan aman dan tenteram tanpa ada konflik diantara mereka.
Anggota suku Kokomaking terbilang begitu banyak, sehingga dari banyaknya anggota suku ini menimbulkan suatu kesepakatan baru untuk dapat berpisah membentuk beberapa rie (tiang) penyangga dengan tetap menggunakan suku kokomaking sebagai suku besarnya. Hingga pada akhirnya dari kesepakatan ini, para orangtua/nenek moyang dikalah itu membentuk 6 rie baru dari suku utama Kokomaking atau Koke tadi. Ke enam suku tersebut diantaranya; Lango biri, Mede hada, Atamarang, Bayo Nuba, Lango Biri dan Witi Warong.
Hal pemekaran rie atau Tiang ini,di ibaratkan seperti sebuah rumah (Kokomaking) yang dibangun oleh seorang tukang (anggota suku), dengan membutuhkan beberapa tiang-tiang penyangga (rie) yang menjadikan rumah itu kuat dari terpaan badai.
Dari ke enam Rie ini, muncul seorang anak bungsu Kokomaking yang lahir dari Rie lango biri yaitu Lango aran. Lango aran baru muncul kemudian dengan alasan yang sama seperti sebelumnya karena besarnya anggota suku Kokomaking lango biri yang begitu banyak sehingga perlu adanya rumah baru untuk mengisi anak dan cucu-cucu dikemudian hari.
Munculnya Rie Lango aran ini dipelopori oleh seorang moyang yang bernama Dori. Moyang Dori ini meneruskan keturunannya dengan melahirkan 3 anak laki-laki diantaranya: Lesu Dori, Raya Dori, dan Duli Dori.
Dari ketiga anak Moyang Dori ini, hanya Lesu Dori yang melanjutkan keturunan selanjutnya. Hal ini disebabkan oleh Raya Dori dan Duli Dori yang hanya melahirkan anak-anak perempuan, sehingga hal tersebut berdampak pada tidak ada lagi yang dapat melanjutkan keturunan berikutnya sebagaimana warisan budaya patriarki yang mewajibkan untuk segala garis keturunan mengikuti ayah atau laki-laki. Dengan berakirnya keturunan dari kedua moyang Raya Dori dan Duli Dori, maka hanya tersisa moyang Lesu Dori sebagai satu-satunya penerus keturunan Lango Aran.
Moyang Lesu Dori meneruskan keturunan selanjutnya dengan melahirkan 2 (dua) anak laki-laki yang bernama Dema Lesu dan Laba Lesu yang selanjutnya menjadi penerus 3 (tiga) keturunan lango aran. sampai pada tingkatan terakhir ini, kami menjadi penerus ke 5 (lima) dari keturunan lango aran. Ada satu hal menariknya bahwa lango aran juga meneruskan dua agama besar dimana Moyang Dema Lesu tetap dengan agama Katolik, Sedangkan Moyang Laba Lesu menikah dan beralih ke agama Muslim. Namun perbedaan ini menjadikan keunikan yang khas hingga terciptanya suatu keharmonisan yang patut dibanggakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar